Lifestyle

Ibu Rumah Tangga Rentan Mom Shaming, Efeknya Bisa Fatal Banget

Ibu rumah tangga rawan menjadi korban mom shaming, Kenapa demikian?

Rima Sekarani Imamun Nissa

Ilustrasi ibu dan anak. (Unsplash/Caroline Hernandez)
Ilustrasi ibu dan anak. (Unsplash/Caroline Hernandez)

Dewiku.com - Ibu rumah tangga (IRT) lebih rentan terhadap mom shaming. Bahkan berdasarkan penelitian terbaru Health Career Collaborative (HCC), 7 dari 10 ibu di Indonesia mengalami mom shaming.

Ironisnya, pelaku utama mom shaming berasal dari keluarga maupun orang terdekat. Hal tersebut diungkapkan peneliti utama sekaligus ketua HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

"Hasil studi menunjukkan, 7 dari 10 ibu di Indonesia yang diwakili responden penelitian ini pernah mengalami bentuk mom shaming, yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional mereka," ungkapnya dalam acara diskusi di Senayan, Jakarta Selatan, Senin (1/7/2024), dilansir dari Suara.com.

Ibu dan anak (Pixabay/Jupi Lu)
Ibu dan anak (Pixabay/Jupi Lu)

Mom shaming merupakan perilaku kritik kepada seorang ibu yang dapat mempermalukan, merendahkan, menghina, atau bahkan menyakiti perasaannya. Bentuknya bisa beragam, mulai dari menghina fisik hingga menjelekkan parenting atau pola pengasuhan ibu terhadap anak dan keluarganya.

Penelitian ini melibatkan 892 responden ibu berusia 20 hingga 40 tahun. Disebutkan juga bahwa pelaku mom shaming biasanya justru suami, orang tua, kerabat, atau masyarakat lingkungan tempat tinggal.

"Ini tentunya temuan yang perlu dikaji lebih sistematis, karena keluarga harusnya menjadi core support system yang melindungi ibu dari perlakuan mom shaming," ucap dokter yang juga dosen Program Magister Kedokteran Kerja di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Ibu yang tidak bekerja enam kali lebih berisiko alami mom shaming. Lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi support system atau pelindung dan pendukung ibu, malah berbalik menjadi pelaku. Hal ini berbeda dengan ibu bekerja yang umumnya menerima dukungan dan bantuan dari sesama perempuan bekerja.

"Lingkungan tempat tinggal, apesnya, mereka jadi aktor mom shaming. Ternyata, lebih kondusif kalau ibu bekerja karena situasinya bagus. Mereka (ibu) jadi teman secara positif dari teman kerja," terangnya.

Walau demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa 29 persen ibu pekerja alami mom shaming di tempat kerja dan lingkungan tempat tinggal sekaligus.

Jika mom shaming dibiarkan terus berlanjut, risiko terbesarnya adalah gangguan kesehatan mental yang dialami 56 persen responden. Para ibu juga merasa malu dan bersalah dengan tudingan yang diarahkan pada mereka.

"Bahkan 64 persen mengakui kata-kata dan tudingan mom shaming ini akhirnya dapat memengaruhi cara mengasuh anak. Lalu, sebanyak 22 persen kompensasi dengan (membandingkan dan berlaku keras) ke perempuan lain," ujar dr. Ray menjelaskan.

Berita Terkait

Berita Terkini