Trending

Tren "Ani-Ani": Demi Gaya Hidup Glamor atau Jerat Eksploitasi?

Ada yang menganggapnya sebagai peluang untuk mendapatkan uang dengan mudah, namun tak sedikit pula yang melihatnya sebagai bentuk eksploitasi terselubung.

Vania Rossa

Ilustrasi perempuan ani-ani. (Freepik)
Ilustrasi perempuan ani-ani. (Freepik)

Dewiku.com - Beberapa waktu lalu, jagat media sosial sempat diramaikan dengan istilah "ani-ani." Kata ini bukan merujuk pada alat panen tradisional, melainkan menjadi kata lain untuk "sugar baby" yaitu perempuan muda yang menjalin relasi dengan pria berduit sebagai simpanan. Bahkan, ada yang menyamakannya dengan "gundik" versi modern.

Fenomena ini mengacu pada hubungan transaksional, di mana perempuan muda menerima dukungan finansial dari pria yang lebih tua, dengan imbalan berupa teman, kekasih, atau bahkan sekadar "teman tapi mesra".

Di balik gemerlapnya gaya hidup mewah yang dipertontonkan, tersimpan ancaman serius bagi kredibilitas dan kesehatan mental perempuan.

Bahaya Mengintai yang Tak Disadari

Tren ani-ani bukan sekadar gaya hidup glamor. Ia berpotensi menciptakan eksploitasi perempuan, membuat mereka menjadi objek seksual bagi pria hidung belang.

Meski dikecam, popularitasnya terus menanjak, dipicu oleh hasrat memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidup konsumtif yang menjamur di masyarakat.

Menurut Psychology Today, perempuan muda yang terjerumus dalam dunia "sugar baby" berisiko tinggi menjadi korban penipuan dan pemaksaan.

Trauma emosional seperti malu, bersalah, cemas, dan depresi menghantui mereka. Belum lagi stigma negatif dari masyarakat yang siap menghujam dari segala arah.

Jessica Setbbins, seorang terapis pernikahan dan keluarga, mengungkapkan bahwa relasi "sugar baby" dan "sugar daddy" seringkali sebatas transaksi materi tanpa adanya ikatan emosional yang tulus.

Kondisi ini merusak persepsi diri dan memicu konsekuensi negatif lainnya. Lebih parah lagi, perempuan yang menjadi ani-ani rentan menjadi korban kekerasan seksual dan kriminalitas.

Meruntuhkan Kredibilitas Perempuan Berprestasi

Ironisnya, tren ani-ani telah merambah ke ranah prasangka terhadap perempuan sukses. Tak sedikit warganet yang mencibir kesuksesan perempuan, menganggapnya hasil "suntikan dana" dari sugar daddy. Seolah-olah, perempuan tidak mampu meraih prestasi tanpa bantuan pria.

Padahal, banyak perempuan sukses membuktikan bahwa kesuksesan diraih melalui kerja keras, dedikasi, dan perjuangan tanpa henti. Mereka melewati berbagai rintangan dan tantangan, merintis jalan sendiri, dan terus mengembangkan diri untuk mencapai impian.

Tren ani-ani menawarkan jalan pintas menuju kemewahan, tetapi dampaknya bisa menghancurkan masa depan perempuan. Alih-alih terjebak dalam eksploitasi, mari berjuang meraih kesuksesan dengan cara yang terhormat dan bermartabat, karena perempuan berhak meraih impiannya tanpa harus mengorbankan harga diri.

(Nurul Lutfia)

Berita Terkait

Berita Terkini